Acronis: Kejahatan Cyber Meningkat di Tengah Pandemi Covid-19

Acronis: Kejahatan Cyber Meningkat di Tengah Pandemi Covid-19

Acronis sebagai salah satu pemimpin global dalam industri perlindungan siber, belum lama ini mengungkapkan hasil laporan kejahatan cyber melalui laporan tahunan mereka, yaitu World Cyber Protection Week. Dalam laporannya tersebut, Acronis mengungkapkan bahwa 42% perusahaan mengalami insiden kehilangan data akibat downtime di tahun lalu. Angka yang tinggi tersebut kemungkinan disebabkan oleh fakta bahwa meski 90% perusahaan mencadangkan komponen TI yang harus mereka lindungi, namun hanya 41% yang mencadangkannya secara harian. Hal ini menyebabkan banyak bisnis kehilangan data yang diperlukan pada saat pemulihan.

Angka yang diungkap dalam acara World Cyber Protection Week Survey 2020 dari Acronis menggambarkan realita baru yang menunjukkan bahwa strategi dan solusi perlindungan data tradisional tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan TI modern individu maupun perusahaan. Karenanya, Acronis memperingati acara tahunan World Backup Day, yang dirayakan tanggal 31 Maret dalam bentuk pengingatan untuk mencadangkan data, dengan mengadakan World Cyber Protection Week dari tanggal 30 Maret sampai 3 April. Dimana saat ini tidak cukup hanya dengan Backup data saja namun dilengkapi dengan proteksi data dan Cyber security.

Berdasarkan hasil survei tahunan yang dilakukan kepada hampir 3.000 orang ini mengukur kebiasaan perlindungan data oleh pengguna di seluruh dunia, yang mana hampir 91% individu mencadangkan data dan pernagkat mereka, tetapi 68% masih mengalami kehilangan data akibat terhapus tidak sengaja, kegagalan hardware atau software dan backup yang tidak pernah di update. Temuan ini tentu saja menekankan akan pentingnya penerapan strategi perlindungan siber yang menyertakan pencadangan data berkali-kali setiap harinya.

Refany Iskandar, selaku Managing Director PT Optima Solusindo Informatika sebagai distributor resmi Acronis, mengungkapkan mengingkatnya serangan siber terjadi karena masih individu atau organisasi yang melakukan backup secara tradisional. Dengan begitu, mereka akan menjadi target para pelaku kejahatan siber dimana backup tersebut tidak lagi cukup untuk melindungi data, aplikasi dan sistem. Survei menunjukkan bahwa hanya mengandalkan pencadangan untuk keberlanjutan bisnis seutuhnya sangatlah berbahaya.

88% profesional TI mengutamakan ransomware, 86% – pembajakan kripto, 87% – serangan rekayasa social engineering seperti phishing, dan 91% – pembobolan data. Pengguna personal: hampir sama tinggi, naik 33% dibandingkan dengan survey Acronis 2019. 30% pengguna personal dan 12% profesional TI tidak akan tahu jika data mereka diubah mendadak.

Meningkatnya penipuan siber terkait dengan meningkatnya virus COVID-19 yang terdeteksi di Asia dalam 2 minggu terakhir, di Tiongkok, Vietnam, Korea Selatan, dan banyak lagi. Sementara itu, Indonesia menjadi salah satu negara yang terpapar. Pelaku cyber crime memanfaatkan ketakutan dan kekacauan yang disebabkan oleh pandemi global ini.

Untuk memastikan perlindungan lengkap, pencadangan yang aman harus menjadi bagian dari pendekatan perlindungan siber komprehensif dari sebuah perusahaan, termasuk alat perlindungan ransomware, disaster recovery, cyber security, dan perangkat manajemen. Pendekatan terintegrasi mendalam ini juga memenuhi Lima Vektor Cyber Securiry; memberikan keselamatan, aksesibilitas, privasi, autentisitas, dan keamanan (safety, accessibility, privacy, authenticity, dan security atau SAPAS) untuk semua data, aplikasi, dan sistem.